Akhirnya aku lihat lagi

Sederhana tanpa banyak cela

Wangimu

Berlalu

Akhirnya aku lihat lagi

Jemari mu yang bergerak bebas

Seiring

Tawamu

Tak ada yang seindah matamu

Hanya rembulan

Tak ada yang selembut sikapmu

Hanya lautan

Tak tergantikan

Oh…

Walau kita

Tak lagi saling

Menyapa

Akan aku katakan padamu tentang caraku ingin mencintaimu :

Aku ingin mencintaimu dengan segala ketidaksempurnaanku tanpa harus menuntut siapa yang harus lebih sempurna

aku ingin mencintaimu dengan segala ketidakpedulianku tanpa harus berlomba tentang siapa yang lebih tidak peduli

aku ingin mencintaimu dengan segala keegoanku tanpa harus bertengkar tentang siapa yang lebih ego

aku ingin mencintaimu dengan segala kebodohanku tanpa harus menyalahkan tentang siapa yang lebih bodoh

aku ingin mencintaimu dengan segala ketidakpekaanku tanpa harus menunjukan siapa yang lebih tidak peka

aku ingin mencintaimu dengan segala kesungguhanku tanpa harus takut kau tak sesungguh-sungguh aku

aku ingin mencintaimu dengan segala keputusasaanku tanpa harus saling menyerah atas keputusasaan itu

2020 akan menjadi tahun yang tidak terlupakan, karena konon katanya kita akan lebih mengingat hal-hal menyakitkan.

Tahun yang banyak rasa takutnya, banyak kehilangannya; nyawa maupun jiwa.

Tetapi justru dari hal-hal menyakitkan di tahun ini banyak membuka mata kita, bahwa kebahagiaan bisa datang dari hal-hal sederhana. Pandemi dan segala bencana yang terasa tidak ada habisnya, menyadarkan kita betapa berharganya sebuah pertemuan, betapa hangatnya bisa tukar tawa, saling peluk, saling genggam. Kelak kita akan lebih membenci perpisahan karena harus saling berjarak saja sudah cukup menyakitkan.

Aku membayangkan setelah pandemi tidak ada di bumi. Manusia akan seperti burung yang bisa terbang terlepas dari sangkar, bebas!

Bebas dan kita akan sangat berbahagia hingga lupa bahwa kita pernah bersedih.

karena semua ini, kita akan lebih mencintai segala yang masih ada : diri kita, dan segala yang masih hidup lainnya.